Perkembangan Sejarah Ilmu Fiqih II: Beberapa Sebab dan bentuk Perbedaan Pendapat Diantara Shahabat

Sebab-sebab dan bentuk-bentuk perbedaan pendapat tersebut diantaranya adalah:

Pertama: Ketika salah seorang Shahabat mengetahui hukum suatu persoalan atau fatwa. Sementara Shahabat lain yang tidak mengetahuinya melakukan ijtihad dalam persoalan tersebut. Ada beberapa bentuk mengenai hal ini:

  1. Ijtihad Mereka Sesuai Dengan Hadits

Contoh dalam riwayat: dari Ibnu Mas’ud bahwa beliau ditanya tentang hukum seorang wanita yang suaminya meninggal sebelum memberinya mahar. Ibnu Mas’ud berkata: “aku tidak mengetahui apakah Rasulullah pernah memutuskan suatu hukum pada permasalahan ini”. Sehingga mereka bolak-balik selama satu bulan menemuinya. Akhirnya Ibnu Mas’ud berijtihad dan memutuskan bahwa wanita tersebut mendapatkan mahar: tidak kurang dan tidak lebih. Dia memiliki masa ‘iddah, memiliki hak waris. Kemudian Mu’aqqal bin Yasar berdiri dan bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memutuskan hal yang serupa kepada seorang wanita pada waktu itu. Mendengar hal itu Ibnu Mas’ud sangat gembira seolah tidak ada kegembiraan yang lebih besar sejakdia masuk Islam.

  1. Terjadi Diskusi Diantara Mereka.

Hingga akhirnya hadits tersebut dapat diterima. Lalu Shahabat yang berijtihad menarik ijtihadnya dan kembali kepada hadits.

Contoh dalam riwayat: Abu Hurairah berpendapat jika seseorang pada pagi hari di bulan Ramadhan dalam keadaan junub maka puasanya tidak sah. Hingga suatu saat sebagian istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberi tahunya tentang hadits yang berbeda dengan pendapatnya. Akhirnya beliau menarik ijtihadnya dan kembali kepada hadits.

  1. Sebagian Shahabat Mendengar Hadits

Namun menurut perkiraan mereka kemungkinan besar tidak demikian. Mereka tidak meninggalkan ijtihadnya, namun mereka meragukan kebenaran hadits tersebut.

Contoh dalam riwayat: Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha bersaksi di hadapan Umar bin Khaththab bahwa dia telah ditalak tiga. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memutuskan tidak memberinya nafkah dan tempat tinggal. Namun Umar bin Khathab menolak kesaksian tersebut dan berkata: “Kita tidak mungkin meninggalkan Al-Qur`an hanya disebabkan ucapan seorang wanita yang tidak diketahui apakah dia berkata jujur atau dusta”.

Aisyah radhiallahu ‘anha kemudian berkata: “wahai Fathimah bertakwalah kepada Allah (atas perkataannya tidak menerima nafkah dan tempat tinggal).

  1. Ada Hadits namun mereka sama sekali tidak mendengarnya.

Contoh dalam riwayat: lbnu Amr radhiallahu ‘anhu menyuruh para istrinya untuk mengurai rambutnya saat mandi junub. Ketika Aisyah radhiallahu ‘anha mendengar hal itu beliau berkata: “apa yang dikatakan Ibnu Amr ini sangat mengherankan. Menyuruh para Wanita agar mengurai rambutnya. Kenapa tidak sekalian saja menyuruh untuk memotongnya. Aku pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi Wasallam menggunakan satu wadah. Dan aku mengguyur kepalaku tidak lebih dari tiga kali guyuran.

Kedua: Para Shahabat melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi Wasallam melakukan suatu amalan, sebagian Shahabat menganggap apa yang dilakukan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah sunnah. Sedangkan sebagian yang lain menganggap hal itu adalah mubah.

Contohnya: para Shahabat melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlari kecil saat melakukan Tawaf. Kemudian sebagian besar Shahabat mengatakan bahwa berlari kecil saat thawaf adalah sunnah. Sementara lbnu Abbas mengatakan bahwa itu karena ada suatu hal yang membuat beliau melakukannya. Yaitu perkataan orang-orang musyrik: “Mereka telah dilemahkan penyakit demam di Yatsrib (madinah)”. (Beliau lakukan untuk menunjukan kekuatan kaum muslimin) bukan karena disunnahkan.

Ketiga: lkhtilaf karena dugaan.

Dalam riwayat: Rasulullah shallallahu ‘alaihi Wasallam melaksanakan ibadah haji dan para Shahabat pun melihatnya. Sebagian Shahabat menduga bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan haji tamattu’. Sebagian yang Iain menduga beliau mengerjakan haji qiran,dan sebagian yang Iain menduga Rasulullah menaksanakan haji ifrad.

Keempat: Ikhtilaf karena lupa atau kurang teliti.

Diriwayatkan: lbnu Umar radhiallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah melaksanakan umrah di bulan Rajab”. Ketika Aisyah radhiallahu ‘anha mendengarnya, ia mengatakan bahwa lbnu Umar lupa tentang hal itu.

Kelima: lkhtilaf karena tidak akurat dalam kesimpulan hadits.

Seperti dalam riwayat: lbnu Umar radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

”Sesungguhya mayit akan diazab sebab rangisan keluarga yang ditinggalkannya”.

Aisyah radhiallahu ‘anha kemudian mengatakan bahwa hal itu adalah kurangnya akurasi dalam pengambilan hadits. Bahwa: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati seorang mayit wanita Yahudi yang sedang ditangisi oleh keluarganya. Kemudian beliau bersabda:

“Mereka menangisi mayit sedangkan dia disiksa di kuburnya”.

Tapi lbnu Umar mengira bahwa azab disebabkan oleh tangisan dan menyangka hal itu berlaku secara umum pada setiap mayit.

Keenam: lkhtilaf dalam Illat suatu hukum.

Contohnya: berdiri ketika melewati jenazah. Sebagian orang berpendapat: “hal itu karena untuk menghormati Malaikat pencabut nyawa. Maka berdiri berlaku umum dilakukan untuk jenazah orang kafir atau mukmin. Ada juga yang berpendapat bahwa hal itu karena dahsyatnya kematian. Berarti ini juga berlaku umum. Sebagian orang berpendapat bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri ketikajenazah Yahudi melintas di depannya. Beliau berdiri karena merasa tidak suka jika jenazah tersebut berada Iebih tinggi dari kepalanya. Maka berdiri dikhususkan untukjenazah orang kafir.

Ketujuh: lkhtilaf dalam menggabungkan dua pendapat yang be-rlawanan.

Contohnya: dalam suatu riwayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menghadap kiblat saat buang air. Suatu kaum berpendapat bahwa ini adalah hukum umum dan ticiak dimansukhkan. Kemudian Jabir melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi Wasallam buang air kecil menghadap kiblat setahun sebelum beliau Wafat. Maka dia mengatakan bahwa hokum tersebut sudah di-mansukh-kan. ibnu Umarjuga pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam buang air membelakangi kiblat. Dia menolak pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa membelakangi kiblat saat buang air tidak boleh.

Bandung, 5 Jumadil Awal


Dikutip dari Kitab Shahih Fiqih Karya Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid Salim

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s