Perkembangan Sejarah Ilmu Fiqih III: Zaman Tabi’in

Ilmu Fiqih Pada Zaman Tabi’in radhiallahu ‘anhum

Secara garis besar pendapat para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Kemudian para Tabi’in radhiallahu ‘anhum menimba ilmu dari mereka. Setiap orang mengambil ilmu sesuai kondisi dan situasi yang mudah dan memungkinkan bagi mereka. Para Tabi’in mulai menghafal hadits-hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan mempelajari pendapat-pendapat para Shahabat radhiallahu ‘anhum. Kemudian mengumpulkan perbedaan pendapat para Shahabat radhiallahu ‘anhum sesuai kemampuannya. Lalu memilih pendapat terkuat dari sekian pendapat. Menurut mereka suatu pendapat meskipun berasal dari sahabat senior, bisa tidak berlaku misal bila pendapat itu menyelisihi hadits nabi yang dikenal ditengah-tengah mereka.

Setelah itu setiap Tabi’in yang alim memiliki mazhab. Akhirnya setiap negeri memiliki seorang imam. seperti: Sa’id bin Al-Musayyab dan Salim bin Abdullah bin Umar di Madinah. Setelah mereka ada Az-Zuhri, Yahya bin Sa’id dan Rabi’ah bin Abdurrahman juga di Madinah. Sedangkan di Makkah ada Atha’ bin Abi Ribah. Di kota Kufah Ibrahim An-Nakh’i dan Asy-Sya’bi. Di kota Bashrah ada Hasan. Thawus bin kisan di Yaman. Mahkul di Syam.

Allah menjadikan orang-orang haus dengan ilmu mereka. Mengambil hadits-hadits dan fatwa-fatwa Shahabat radhiallahu ‘anhum. Mempelajari mazhab-mazhab dan tahqiq mereka. Mereka meminta fatwa dan mengajukan berbagai masalah yang terjadi diantara mereka kepada ulama tersebut.

Ibnu Al-Musayyab, Ibrahim An-Nakh’i dan imam-imam semisal mereka telah mengumpulkan bab-bab fiqih dengan lengkap. Sa’id bin Al-Musayyab dan teman-teman sejawatnya beranggapan bahwa ulama Haramain (Makkah dan Madinah) memiliki keabsahan paling tinggi dalam ilmu fiqih. Sedangkan asal mazhab mereka adalah dari persoalan yang sering dibahas oleh umar radhiallahu ‘anhu, Utsman radhiallahu ‘anhu, Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, Aisyah radhiallahu ‘anha, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu dan para qadhi (hakim) Madinah. Sedangkan An-Nakh’i dan teman-teman sejawatnya berpendapat bahwa Abdullah bin Mas’ud dan sahabat-sahabat dekatnya ialah orang-orang yang memiliki keabsahan paling tinggi dalam ilmu fiqih. Mazhab mereka berasal dari fatwa-fatwa Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, permasalahan dan fatwa-fatwa yang pernah dibahas oleh Ali radhiallahu ‘anhu. Juga persoalan-persoalan yang pernah di bahas Tabi’in yang bernama Syarih dan lainnya di Kufah.

Setiap kelompok berpandangan sesuai teori dan penelitian yang mereka miliki. Namun jika suatu persoalan tersebut sudah menjadi ijma’ maka mereka akan menerimanya dengan serta merta. Jika ada perbedaan di antara para Shahabat, Tabi’in akan mengambil pendapat yang terkuat. Apabila tidak mendapatkan jawaban atas suatu permasalahan dari pengetahuan yang mereka peroleh, mereka akan meletakkan perkataan para Shahabat dan mengikuti isyarat yang paling diperlukan dan relevan. Pada masa itu sudah banyak permasalahan-permasalahan yang muncul dalam bab fiqih.

Bandung, 9 Sya’ban 1437 H


Dikutip dari Kitab Shahih Fiqih karya Syaikh Abu Malik Kamal Sayyid Salim

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s