Ketika Saling Menginginkan Namun Belum Sanggup Menghalalkan

Sudah merupakan hal yang wajar jika seorang yang telah baligh mulai mengalami ketertarikan dengan lawan jenisnya. Ditambah dengan adanya berbagai interaksi dengan para mahasiswi di kampus, sesama aktivis dakwah, serta interaksi lain yang tidak bisa dihindari. Rasa kecenderungan terhadap lawan jenis sejatinya merupakan suatu fithrah yang Allah berikan kepada setiap hambanya. Yang dengannya ia bisa menjadi anugerah, atau malah menjadi bencana di kemudian hari, tergantung pada bagaimana seseorang itu mengelolanya.

Tanpa disadari, perasaan itu telah masuk ke dalam hati.
Berawal dari perjumpaan singkat, hingga tak sengaja beberapa kali berpapasan karena tempat tinggal yang saling dekat.

Keanggunan, penjagaan diri, kecerdasan dalam hal agama, telah membuatnya terpikat.
Gelagat senyum, raut wajah malu, serta gugupnya sang akhwat ketika bertemu, membuatnya berharap bahwa keduanya merasakan hal yang sama.

Hari semakin berlalu, dan perasaan itu pun semakin bertumbuh. Sering kali ia beristikharah, dan semakin yakin bahwa ia telah menemukan calon ibu dari anak-anaknya. Namun apalah dayanya, yang hanya seorang mahasiswa yang hidup dengan menggantungkan diri pada beasiswa. Ia paham betul bahwa yang dimaksud pada hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wassallam mengenai kata “baa’ah” adalah kesanggupan berhubungan dengan lawan jenis serta kemampuan memberikan nafkah dengan pekerjaan yang ia miliki. Tidak harus pekerjaan tetap, namun tetap bekerja. Ia pun mulai mencari pekerjaan, namun tetap merasa tidak ada yang cocok.

Perlahan, perasaan tersebut mulai berubah menjadi penyakit, Al-Isyq. Kerinduan terhadap seseorang yang belum halal baginya, disertai dengan angan-angan harapan kebersamaan dengannya kelak. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Maka berpuasa, ikhtiar memampukan diri, serta doa merupakan sebaik-baik jalan. Puasa dapat menahan dan menurunkan hawa nafsu, ikhtiar merupakan langkah nyatanya untuk menuju jenjang pernikahan, dan doa sebagai langkah pengiringan terhadap apa yang ia lakukan agar Allah memberikan keberkahan terhadap segalah usahanya.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu yang Maha Agung. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedangkan kami tidak. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui, sedangkan kami tidak mengetahui dan Engkaulah yang Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, jika memang perkara tersebut baik untuk agamanya, baik di dunia maupun di akhirat, maka takdirkanlah ia untuknya. Akan tetapi bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini membawa keburukan bagi agamanya, serta kehidupannya, maka singkirkanlah urusan tersebut, dan jauhkan ia darinya, serta takdirkanlah beginya kebaikan dimana saja kebaikan berada, lalu jadikanlah ia ridha dalam menerimanya.


Bandung, 13 Ramadhan 1437 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s