Ta’jilun Nada-Pengantar Bagian I, Biografi Ibnu Hisyam

Biografi Ibnu Hisyam, Penyususn Matan Qathrun Nada

Nama dan Nasabnya
Beliau adalah al-Imam al-Allamah Abdullah bin Yusuf bin Ahmad bin Abdullah bin Hisyam al-Anshari al-Mishri al-Khazraji asy-Syafi’i al-Hanbali. Bergelar “Jamaluddin”, kunyahnya adalah Abu Muhammad, dan Muhammad ini adalah anaknya yang paling besar.

Kelahiran dan Pertumbuhannya
Ibnu Hisyam dilahirkan di Kairo pada bulan Dzul Qa’dah tahun 708 H/1306 M, dan tumbuh di sana. Beliau mempelajari banyak ilmu pada masanya berupa nahwu, sharaf, fiqh, qiraat, tafsir, adab dan lughah di hadapan para masyaikh pada zamannya dengan penuh kesabaran. Beliau bersyair:

و من يصطبر للعلم يظفر بنيله #

و من يخطب الحسناء يصبر على البذل و من لم يذل النفس في طلب العلى # يسيرا يعش دهرا طويلا اخا ذل

“Siapa yang bersabar dalam menuntut ilmu, ia akan menggapainya.
Siapa yang ingin meminang kebaikan, hendaklah bersabar dalam pengorbanan.
Siapa yang tidak menundukkan nafsunya dalam menggapai sesuatu yang mulia, maka ia akan hidup lama sebagai orang yang hina.”

Setelah beliau mendalami ilmu-ilmu ini kemudian beliau mengajar. Beliau mengajarkan ilmu bahasa Arab di Mesir dan Mekkah. Awalnya beliau bermadzhab Syafi’i, kemudian 5 tahun sebelum wafatnya beliau beralih ke madzhab Hanbali.

Sifat dan Keilmuannya
Ibnu Hisyam menonjol dengan dikaruniai kecerdasan yang luar biasa dan hafalan yang kuat. Beliau sanggup melampaui kawan-kawannya pada banyak ilmu, seperti nahwu, fiqh, adab, tafsir dan lughat, bahkan beliau melampaui para syaikh pada masanya itu. Beliau menghafal Mukhtashar al-Kharqi dalam tempo kurang dari 4 bulan. Adapun dalam aspek ilmu bahasa Arab, Ibnu Hisyam adalah seorang sastrawan, hanya saja beliau banyak berbeda dengan Abu Hayyan, salah seorang ahli nahwu pada masanya. Dalam segi akhlaq, beliau dikenal tawadhu’, berbakti, penyayang, santun dan halus budi bahasanya, menjaga diri, bagus perjalanan hidupnya, istiqamah dan sabar dalam menuntut ilmu.

 

Para Guru dan Muridnya
Ibnu Hisyam belajar kepada para ulama pada masanya dalam ilmu bahasa Arab, fiqh, hadits, tafsir dan qiraat. Diantara guru-gurunya adalah:

  1. Syaikh Syihabuddin Abdul Lathif bin al-Murahhal, kunyahnya adalah Abu Faraj (Ibnu Hisyam melaziminya dalam ilmu nahwu).
  2. Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad bin Numair, yang dikenal dengan Ibnu as-Siraj (Ibnu Hisyam belajar ilmu qiraah darinya).
  3. Syaikh Tajuddin Ali bin Abdullah at-Tibrizi.
  4. Syaikh Tajuddin Umar bin Ali al-Fakihani. (Ibnu Hisyam mempelajari syarah al-Isyarah darinya, satu kitab yang membahas ilmu nahwu).
  5. Imam Ibnu Jama’ah, salah seorang ahli hadits pada masanya. (Ibnu Hisyam belajar ilmu hadits darinya).
  6. Imam Abu Hayyan an-Nahwi, seorang ahli nahwu yang unggul pada masanya.

Adapun murid-murid Ibnu Hisyam diantaranya adalah:

  1. Muhibbuddin Muhammad, putra Ibnu Hisyam.
  2. Syaikh Jamaluddin Ibrahim bin Muhammad al-Lakhami.
  3. Sirajudin Umar bin Ali.
  4. Ibrahim bin Muhammad an-Nahwi.

Ibnu Hisyam memiliki banyak murid, hanya saja kebanyakan dari mereka tidak dikenal dalam sejarah.

Madzhab Ibnu Hisyam
Ibnu Hisyam adalah seorang yang alim dan wara’. Beliau tidak tercela aqidahnya, agamanya dan suluknya. Dahulu beliau bermadzhab Syafi’i, kemudian beralih ke madzhab Hanbali. Ada yang berpendapat lain, seperti Syaikh Yusuf bin Taghri Bardi: “Ibnu Hisyam pada awalnya seorang Hanafi, kemudian beralih menjadi Hanbali.”

Pendapat Para Ulama Tentang Ibnu Hisyam
Imam as-Subki berkata: “Ibnu Hisyam adalah ahli nahwu zamannya.” Sedangkan Syaikh ad-Damamini berkata kepada putra Ibnu Hisyam: “Andai saja Imam Sibawaih masih hidup, pastilah ia akan berguru kepada ayahmu dan membaca kepadanya.”

Ibnu Khaldun berkata: “Kami di Negeri Maroko, senantiasa mendengar kabar bahwa di Mesir ada seseorang bernama Ibnu Hisyam yang alim dalam ilmu bahasa Arab, yang lebih pakar dalam bidang nahwu melebihi Imam Sibawaih.”

Metodologinya dalam Bidang Nahwu
Para pakar yang meneliti kitab-kitab karya Ibnu Hisyam mendapati bahwa manhaj/metodologinya dalam ilmu nahwu dibangun atas asas-asas berikut:

  1. Menjadikan al-Quran sebagai sumber pertama serta asas dalam membangun kaidah nahwu, dan mentashih uslub-uslub bahasa Arab.
  2. Bersandar pada sebagian qiraat untuk membangun sebagian kaidah nahwu.
  3. Berdalil dengan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia.
  4. Berdalil dengan syair-syair Arab. Catatan: di kalangan spesialis nahwu ada beberapa syair yang tidak bisa dijadikan hujjah. Adapun Ibnu Hisyam terkadang membawakan beberapa syair semacam ini untuk menjelaskan kekeliruan struktur bahasa dalam syair tersebut.
  5. Beliau tidak terikat dengan madzhab nahwu tertentu. Dalam bidang nahwu dikenal madzhab besar; Bashrah dan Kuffah, serta ada beberapa madzhab lainnya. Secara umum beliau banyak bersandar pada madzhab Bashrah, hanya saja beliau juga mengambil madzhab Kuffah, atau bahkan madzhab-madzhab lainnya manakala beliau memandang dalil-dalil mereka lebih kuat dari dalil-dalil ulama-ulama madzhab Bashrah.

Karya-karya Ibnu Hisyam
Beliau menulis sekitar 50-an kitab. Sebagian hanya dikenal namanya karena hilang dalam proses peradaban sehingga tidak sampai ke tangan kita, sebagiannya lagi masih eksis dan sudah diterbitkan. Karya-karya beliau diantaranya adalah:

  1. Al-I’rab ‘an Qawa’id al-I’rab
  2. Qathr an-Nada wa Ball ash-Shada
  3. Iqamat ad-Dalil ‘ala Shihat at-Tamtsil wa Fasadi Ta-wil
  4. Audhah al-Masalik ila Alfiyah Ibni Malik
  5. Risalah fi Ahkam Lau wa Hatta
  6. Kifayah Ta’rif fi ‘Ilm at-Tashrif
  7. Al-Kawakib ad-Durriyyah
  8. Masa-il fi I’rab al-Quran
  9. Syarh Qathr an-Nada wa Ball ash-Shada
  10. Dan lain-lain.

Wafatnya
Ibnu Hisyam al-Anshari wafat pada hari Kamis malam Jum’at pada bulan Dzul Qa’dah tahun 761 H/1360 M. Beliau dikebumikan setelah shalat Jum’at di pemakaman ash-Shufiyyah di luar Bab an-Nashr, Kairo.

(Disarikan dari tulisan Dr. Emil Badi’ Ya’qub, pentahqiq kitab Syarh Qathr an-Nada wa Ball ash-Shada).

 

Langkah Belajar Ilmu Nahwu

Jika Ingin Mempelajari Nahwu dari Kitab-Kitab Ibnu Hisyam, dari Mana Kita Memulai?
Seorang penuntut ilmu yang ingin mempelajari nahwu dari kitab-kitab Ibnu Hisyam hendaknya

  1. memulai dengan Qathrun Nada, yaitu dengan cara menghafal matannya jika memang hal itu mudah baginya.
  2. Kemudian dia membaca syarahnya. Ibnu Hisyam sendiri telah mensyarah matan Qathrun Nada beliau.
  3. Jika penuntut ilmu tersebut ingin memperluas ilmunya, hendaknya dia melihat matan lain yang disusun oleh Ibnu Hisyam, yaitu Syudzur Adz Dzahab. Beliau sendiri juga telah mensyarahnya.
  4. Setelah itu, baru dia mempelajari kitab yang pembahasannya paling luas, yaitu Audhah Al Masalik Syarh Alfiyyah Ibni Malik. Ini adalah kitab lanjutan setelah dua kitab tadi.

 

Sekilas Tentang Matan Qathrun Nada Wa Ballush Shada

Qathrun Nada Wa Ballush Shada merupakan matan yang paling ringkas yang disusun oleh Ibnu Hisyam. Beliau sendiri pula yang kemudian membuat syarh terhadap kitab tersebut.

Makna القَطر adalah النُقَط (tetes-tetes atau titik-titik). Adapun tentang lafadz الندى , penyusun Kamus Al Muhith menyebutkan :

النَّدَى [ ندو]. مصـ.-. بُخار الماء يتكاثف في طبقات الجوّ الباردة في أثناء اللّيل ويسقط على الأرض قطَرات صغيرة .

Lafadz النَّدَى adalah bentuk mashdar  (kata dasar) yang memiliki arti : uap air tebal yang berada pada lapisan-lapisan udara yang dingin di tengah malam, dan jatuh ke tanah dalam bentuk titik-titik kecil (dalam bahasa kita : embun). Embun ini dijadikan sebagai bahan permisalan untuk sesuatu yang sifatnya tipis, ringan, dan keinginan jiwa terhadapnya. Jadi, dengan nama ini Ibnu Hisyam rahimahullah ingin menjelaskan bahwa matan ini ringan dan mudah.

Bagian kedua dari nama matan ini adalah  وَبَلُّ الصَّدَى.
Lafadz البل artinya lembab atau basah. Sedangkan الصَّدَى berarti : rasa haus yang sangat (العطش الشَّديد) , sebagaimana disebutkan dalam Kamus Al Muhith. Dan الصادي berarti orang yang haus. Seakan-akan beliau rahimahullah mengatakan : “Sesungguhnya kitab ini bukan kitab yang luas pembahasannya. Kitab ini hanya ibarat tetesan air, dan tidak merubah haus kecuali sekedar menjadi lembab saja. Maka janganlah engkau -wahai penuntut ilmu- menganggap kitab ini banyak pembahasan dan sulit. Bersabarlah dalam mempelajarinya. Ketahuilah bahwa kitab ini adalah pijakan awal bagimu untuk menguasai bahasa Arab, dan bahwa jika engkau telah mempelajarinya, sungguh engkau telah mengambil salah satu dari dua kunci ilmu bahasa Arab. Ini akan membantumu –insya Allah ta’ala- untuk membuka bagian-bagian ilmu ini yang masih tertutup dalam kitab-kitab yang lebih luas pembahasannya.”

Lafadz  النَّدَى  juga memiliki makna المطر (hujan). Dan makna ‘hujan’ ini lebih rajih -wallahu a’lam- sehingga arti dari nama kitab ini adalah : tetesan-tetesan hujan yang menghilangkan rasa haus yang sangat. Sebab, titik-titik kecil (embun) tidak bisa menghilangkan haus. Haus hanya bisa dihilangkan dengan air yang banyak. Jadi, Ibnu Hisyam rahimahullah seakan-akan memberi kabar gembira kepada para penuntut ilmu Nahwu dengan adanya hujan yang dapat melenyapkan rasa haus mereka yang sangat terhadap kaidah-kaidah bahasa Arab. Dan beliau memang benar. Setiap karya tulis beliau mampu memuaskan orang yang amat haus dan menghilangkan dahaganya.

Semoga Allah membalas beliau dengan kebaikan atas jasa-jasa beliau terhadap bahasa Arab dan orang-orang yang menggunakannya.

Tambahan Faidah:
Qathrun Nada dulunya juga merupakan nama putri seorang raja Mesir yang bernama Khumaruwaih (Khumar bin Ahmad bin Thulun At Turki As Samiri) yang memerintah tahun 270-283 H. Qathrun Nada ini kemudian dinikahi oleh Khalifah Al Mu’tashim Billah Al ‘Abbasi.

Sumber: Channel Telegram تعجيل الندى, https://telegram.me/TajilunNada

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s