Syarah Lum’atul I’tiqad-Kaidah Utama dalam Penetapan Nama dan Sifat Allah

Catatan kajian Kitab Syarah Lum’atul I’tiqad, Ustadz Abdul Halim hafidzahullah
Penulis kitab (matan): Imam Muwafaquddin, Ibnu Qudamah Al-Maqdisy rahimahullah
Penulis kitab syarah: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah
Sabtu, 14 dan 21 Jumadil awwal 1438H/ 11 dan 18 Februari 2017
Masjid Al-Ihsan Darul Hikam, Dago, Kota Bandung

Sebelum masuk pada pembahasan matan Lum’atul I’tiqad, Syaikh Utsaimin rahimahullah terlebih dahulu menjelaskan tentang kaidah-kaidah utama dalam penetapan Asma’ wa Shifat Allah ‘azza wa jalla.

Kaidah Pertama: Wajibnya Menggunakan Nash-Nash Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam Penetapan Nama dan Sifat Allah
Wajib bagi setiap muslim, untuk mengambil nash-nash dari Al-Qur’an dan As-Sunnah secara dhahir (tekstual) dan tidak mengubah-ubahnya (tanpa dalil yang kuat). Allah telah menurunkan Al-Qur’an dengan bahasa Arab yang telah dimengerti oleh orang-orang, sebagaimana pula ia diwahyukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang juga berbahasa Arab. Maka wajib bagi kita untuk mengambil apapun yang telah ditunjukkan dalam firman Allah dan sabda Rasul-Nya sesuai sebagaimana yang telah disampaikan. Jika seseorang mengubah nash-nash yang telah diketahui dhahirnya, maka itu berarti ia telah berbicara tentang Allah tanpa Ilmu yang hukumnya adalah HARAM. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
Katakanlah: ‘Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui’.” [Al-A’raaf (7): 33]

Contohnya (dalam hal penetapan sifat berdasarkan) firman Allah Ta’ala:

بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاء
Bahkan tangan-Nya terbentang, Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki”. [Al-Maidah(5): 64]

Dhahir ayat ini menetapkan bahwa Allah memiliki dua tangan yang hakiki, maka wajib bagi kita untuk menetapkan demikian bagi Allah. Dan jika ada yang berkata bahwa maksud dari dua tangan maknanya adalah “kekuatan”, maka kita katakan bahwa hal tersebut memalingkan makna suatu kata dari dhahirnya. Maka terlarang untuk bicara seperti demikian, karena termasuk dari berbicara tentang Allah dengan tanpa ilmu.

Kaidah Kedua: Mengenai Nama-Nama Allah
Di bawah kaidah ini terdapat beberapa cabang:
Cabang pertama: Nama-Nama Allah seluruhnya Husna (Baik/Indah)
Yakni puncak keindahan yang sempurna. Karena ia mengandung sifat-sifat sempurna, tidak ada kekurangan padanya dari sisi manapun. Allah Ta’ala berfirman:

وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى
Hanya milik Allah asmaa-ul husna [Al-A’raf(7):180]

Contohnya: ((Ar-Rahman)), ia adalah salah satu nama dari nama-nama Allah Ta’ala, yang menunjukkan atas sifat Agung, yaitu rahmat yang luas (mencakup segala sesuatu). Dari sini kita ketahui bahwa terdapat nama yang bukan termasuk dari Asmaul Husna, seperti Ad-Dahr (masa/zaman). Karena Ad-Dahr tidak mencakup makna puncak kebaikan yang sempurna. Dan Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَاتَسُبُّوْا الدَّهْرَ فَاِنَّ اللهَ هُوَ الدَهرٌ
Janganlah memaki Ad-Dahr (masa), karena sesungguhnya Allah adalah (pengatur) masa. (Hadits Riwayat Imam Bukhari, Muslim, dan Ahmad. Dari Abu Hurairah)
Makna hadits di atas adalah bahwa Allah adalah penguasa dan pengatur Ad-Dahr, dengan dalil sabda Nabi yang kedua berikut ini, dari Allah ta’ala,
بِيَدِيْ الأَمرُ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَ النَّهَارَ
“Di tangan-Ku segala urusan, Aku membolak-balikkan siang dan Malam.” (Hadits riwayat Imam Bukhari, Muslim, dan Abu Daud. Dari Abu Hurairah)

Cabang Kedua: Nama-nama Allah tidak terbatas pada jumlah tertentu, berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam hadits yang masyhur:

أَسأَلُكَ اللهُمَّ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أحَدًا مِنْ خَلقِكَ، أَوِسْتَاْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ.
Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu dengan semua nama milikmu, yang dengannya Engkau menamakan diri-Mu, atau Engkau menurunkannya dalam kitab-Mu, yang dengannya engkau menamai diri-Mu, atau engkau menurunkannya dalam kitab-Mu, atau engkau mengajarkannya kepada salah satu makhluk-Mu, atau engkau sembunyikan nama-Mu dalam ilmu ghaib disisi-Mu. (HR. Imam Ahmad, Ibnu Hibban, Ath-Thabrani, Hakim. Dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dalam Syifa’ Al-Alil, Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah. Rahimahumullah)

Dan apa yang telah Allah sembunyikan dalam ilmu ghaib di sisi-Nya, maka tidak mungkin dihitung dan dijangkau (oleh daya manusia).

Penggabungan antara hadits di atas dengan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits shahih yang lain:

إِنَّ لِلهِ تِسْعَتً وَ تِسْعِيْنَ اسْمً مِأَةً إِلَّا وَاحِدً؛ مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ جَنَّةَ.
Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Barang siapa menghitungnya (memahami, mengamalkannya) maka dia masuk surga. (HR. Imam Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah)

Maka makna hadits di atas adalah bahwa sembilan puluh sembilan nama Allah ini memiliki kekhususan (yang jika dipahami dan dihafalkan oleh seseorang) maka dia masuk surga. Hal ini bukan berarti membatasi nama-nama Allah Ta’ala pada bilangan 99 saja. Permisalan ini seperti halnya jika anda berkata: “Aku memiliki seratus dirham yang aku peruntukkan untuk sedekah”. Maka bukanlah berarti anda tidak memiliki dirham lain selain yang diperuntukkan sebagai sedekah.

Cabang Ketiga: Nama Allah tidak ditetapkan dengan akal, namun ditetapkan dengan syari’at.
Nama-nama Allah adalah tauqifiyah (hanya berlandaskan al-Qur’an dan As-Sunnah). Ia ditetapkan hanya berdasarkan syara’, tidak ditambah dan tidak dikurangi. Karena akal tidak mungkin mengetahui nama apa yang berhak disandang oleh Allah Ta’ala, maka wajib menghentikan yang demikian (penetapan dengan akal) dan kembali kepada hukum syara’. Alasan lainnya adalah karena menamai Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menamai diri-Nya dengan nama tersebut, atau mengingkari nama yang telah Allah tetapkan atas diri-Nya, merupakan kejahatan/kelancangan pada hak Allah Ta’ala. Maka dalam penetapan nama-nama-Nya, wajib menempuh adab-adabnya.

Cabang keempat: Setiap nama-nama Allah menunjukkan dzat Allah, sifat-sifat Allah, dan akibat yang disebabkan jika nama tersebut transitif/tidak butuh obyek (Muta’addiy). Dan tidaklah sempurna iman tanpa penetapan seluruh nama-nama tersebut.

Contoh nama Allah yang tidak butuh objek: Al-Adhim (Maha Agung).
Tidaklah terwujud iman seseorang hingga ia menetapkan nama tersebut sebagai salah satu dari nama-nama Allah yang menunjukkan dzat Allah Ta’ala, dan menetapkan sifat yang terkandung di dalamnya, yaitu “keagungan” (Al-Adhamah).

Contoh nama Allah yang butuh objek: Ar-Rahman (Maha Pengasih).
Tidaklah terwujud iman seseorang hingga ia menetapkan nama tersebut sebagai salah satu dari nama-nama Allah yang menunjukkan dzat Allah Ta’ala, sifat yang terkandung di dalamnya, yaitu “rasa kasih” (Rahimah), dan pengaruh darinya yaitu bahwa Allah merahmati siapapun yang Ia Kehendaki.

Faidah tambahan: diantara pendapat yang terkuat mengenai perbedaan antara Ar-Rahman dan Ar-Rahim adalah bahwa Ar-Rahman adalah nama yang lazim (tidak butuh objek), sedangkan Ar-Rahim adalah nama yang mutaaddiy (butuh objek).

Kaidah Ketiga: Mengenai Sifat-sifat Allah
Di bawah kaidah ini terdapat beberapa cabang juga.

Cabang pertama: Sifat-sifat Allah seluruhnya tinggi, sempurna, dan penuh pujian, tanpa kekurangan di sisi manapun.
Misal: Al-Hayat (hidup, azali, abadi), Al-‘Ilm (berilmu), Al-Qudrah (kuasa), As-Sam’u (mendengar), Al-Bashar (melihat), Al-hikmah (bijaksana), Ar-Rahmah (menyayangi), Al-Uluw (tinggi), dan selainnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلِلهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى [النحل:20]
Dan Allah memiliki sifat yang Maha Tinggi [An-Nahl(16): 20]
Dan karena Allah Maha Sempurna, maka sifat-sifatnya juga haruslah sempurna.

Apabila suatu sifat itu memiliki kekurangan, tidak ada kesempurnaan di dalamnya, maka ia mustahil bagi Allah. Contohnya adalah al-maut (mati), al-jahl (bodoh), al-ajz (lemah), ash-shamam (tuli), al-a’ma (buta), dan yang lainnya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiksa orang-orang yang menyifati diri-Nya dengan kekurangan, dan menyucikan diri-Nya dari kekurangan yang disematkan orang-orang tersebut pada-Nya. Disamping itu, Allah tidak mungkin memiliki kekurangan, karena hal tersebut menafikan ke-rububiyah-an-Nya.

Dan apabila sutau sifat itu sempurna di satu sisi namun terdapat kekurangan di sisi yang lain, maka tidaklah kita tetapkan sifat tersebut bagi Allah dan tidak pula kita larang/tolak secara mutlak. Akan tetapi perlu diperinci, yaitu sifat tersebut ditetapkan pada keadaan ketika sifat tersebut memiliki kesempurnaan, dan ditanggalkan kondisi ketika sifat tersebut memiliki kekurangan. Seperti al-makr (makar), al-kaid (tipu daya), al-khida’ (tipu muslihat), dan semisalnya. Maka sifat-sifat ini sempurna apabila dalam keadaan menghadapi/membalas yang semisal dengannya. Karena sifat tersebut menunjukkan bahwa pelakunya mampu untuk membalas lawannya dengan perbuatan yang sama. Akan tetapi ada kekurangan pada sifat tersebut ketika di luar keadaan itu. Maka sifat tersebut ditetapkan bagi Allah pada kondisi pertama dan tidak pada kondisi yang kedua.

Allah Ta’ala berfirman:
وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللّهُ ۖ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
Mereka berbuat makar dan Allah pun berbuat makar kepada mereka. Dan Allah sebaik-baik pembuat makar”. [Al-Anfal(8): 30]

إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا (۱۵) وَأَكِيدُ كَيْدًا
Sesungguhnya mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya yang sebenar-benarnya. Dan Aku pun membuat tipu daya yang sebenar-benarnya” [Ath-Thariq(86):15-16]

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ
Sesungguhnya orang-orang munafik menipu Allah dan Allah membalas tipuan mereka” [An-Nisaa’(4): 142]

Dan apabila dikatakatan, “Apakah Allah disifati dengan ‘pembuat makar’ ?” maka jangan katakan “ya” dan jangan pula katakan “tidak”. Akan tetapi katakan “Allah membuat makar kepada orang yang berhak menerimanya” Wallahu a’lam.

Cabang kedua: Sifat Allah dibagi menjadi dua jenis, yaitu Tsubutiyah dan Salbiyah.

Sifat Tsubutiyah: Sifat-Sifat yang Allah tetapkan bagi dirinya sendiri, seperti Al-Hayat, Al-‘Ilm, Al-Qudrah, dan wajib bagi kita untuk menetapkan sifat-sifat tersebut bagi Allah dengan sisi yang layak bagi-Nya karena Allah telah menetapkannya bagi diri-Nya sendiri dan Allah-lah yang lebih mengetahui sifat-sifat-Nya.

Sifat Salbiyah: Sifat-Sifat yang Allah sendiri telah menolaknya, seperti Adh-Dhulm (Dhalim), maka wajib bagi kita untuk menolak menetapkan sifat tersebut bagi Allah, karena Allah sendiri telah menolaknya. Akan tetapi kita juga diwajibkan untuk meyakini penetapan sifat yang berlawanan dengan sifat-sifat tersebut dengan sisi yang lebih sempurna, karena sekedar menafikan bukanlah suatu kesempurnaan hingga kita menetapkan sifat yang berlawanan tersebut bagi Allah.

Cabang ketiga: Sifat Tsubutiyah terbagi menjadi dua: Sifat Dzatiyah dan Fi’liyah

Sifat Dzatiyah: Sifat yang telah tetap bagi Allah sejak dahulu dan terus menerus, seperti As-Sam’u dan Al-Bashar.

Sifat Fi’liyah: Sifat yang terkait dengan kehendak, yang jika memang Allah berkehendak maka ia melakukannya, dan jika Allah tidak berkehendak, maka Allah tidak melakukannya, seperti Al-Istiwa di atas ‘Arsy dan Al-Maji’ (datang).

Dan terkadang ada sifat yang memiliki sisi dzatiyah dan fi’liyah, seperti Al-Kalam. Karena ia jika ditinjau pada dasarnya merupakan sifat dzatiyah, karena Allah tidak pernah tidak dan senantiasa memiliki sifat berbicara, namun ketika ditinjau dari satu per satu ketika Allah berbicara maka Al-Kalam adalah sifat fi’liyah. Al-Kalam terkait dengan kehendak Allah, Dia berbicara dengan apa yang Dia kehendaki dan kapan Dia kehendaki.

Cabang keempat: Terdapat tiga pertanyaan yang diajukan kepada setiap sifat-sifat Allah

Pertanyaan pertama: Apakah ia hakiki (bukan sekedar ungkapan/majas)? Dan kenapa?
Pertanyaan kedua: Apakah boleh men-takyif-nya (memikirkan bagaimananya)? Dan kenapa?
Pertanyaan ketiga: Apakah menyamai sifat makhluk? Dan kenapa?

Maka jawaban pertanyaan pertama: ya, hakiki. Karena hukum asal kata dalam suatu perkataan adalah bermakna hakiki, maka tidak boleh berpaling dari makna tersebut kecuali dengan dalil yang shahih yang menghalanginya dari pemaknaan secara hakiki tersebut.

Jawaban pertanyaan kedua: tidak boleh men-takyif-nya, berdasarkan firman Allah:

وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

Dan tidaklah mereka menguasai ilmu (tentang Allah jika memang tidak ada dalil yang menjelaskan) [Thaha(20):110]
Dan karena akal tidak mungkin mencapai pengetahuan tentang bagaimananya sifat Allah.

Jawaban pertanyaan ketiga: Tidak boleh menyamakan dengan sifat-sifat makhluk, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Tidak ada yang semisal dengan-Nya sesuatu pun [Asy-Syura(42): 11]
Dan karena Allah lah yang berhak atas kesempurnaan yang tak ada puncaknya lagi di atas sifat-sifat Allah, maka tidak mungkin menyamai makhluk yang memiliki kekurangan.

Perbedaan antara tamtsil dan takyif adalah bahwa tamtsil menyebutkan bagaimananya sifat tersebut dengan cara dikaitkan dengan contoh/padanan, sedangkan takyif menyebutkan bagaimananya suatu sifat dengan tanpa dikaitkan dengan contoh/padanan.

Contoh tamtsil: seseorang berkata, ”Tangan Allah seperti tangan manusia”.
Contoh takyif: seseorang membayangkan tangan Allah bagaimana bentuknya, dengan tidak ada yang semisal dengan tangan-tangan makhluk. Maka tidak boleh membayang-bayangkan seperti ini.

Kaidah keempat: Bantahan terhadap Muaththilah (orang yang menolak penetapan sifat-sifat Allah)

Muaththilah adalah orang-orang yang mengingkari sesuatu dari nama-nama Allah atau sifat-sifat-Nya, dan memalingkan dalil-dalil dari dhahirnya. Maka mereka disebut muawwilah (ahli takwil, orang yang suka mentakwil), dan kaidah umum untuk membantah mereka adalah dengan mengatakan bahwa:

  1. Perkataan mereka menyelisishi dhahir dalil.
  2. Bertentangan dengan cara Salaf (orang shalih terdahulu) dalam menetapkan nama dan sifat Allah.
  3. Tidak ada dalil yang shahih atas pentakwilan tersebut

Dan terkadang di sebagian sifat terdapat sifat yang keempat atau lebih.


Selesai ditulis di Lamongan,
Ahad, 3 Sya’ban 1438 H, atau bertepatan dengan 30 April 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s