SEMURAH INIKAH HARGA ANAKMU?

Kau sebagai orang tua, rela merawat dan menyapih putrimu sedari kecil, memberinya pendidikan sampai dewasa. Hingga kini ia tumbuh menjadi jelita. Menjadi idaman setiap pria.
Tapi apa kau pastikan lelaki shalih ikut di deretan pengagum putrimu?

Kau mungkin memberinya pendidikan yang layak. Memberikan setiap apa yang diminta. Ada di setiap tawa, juga sedihnya. Bagaikan dayang yang melayani ratunya. Hadir di setiap pagi, juga petangnya.
Tapi apa kau sudah memberi pemahaman agama yang cukup bagi putrimu? Jangan-jangan kau hanya mendidik calon tentara yang militan memusuhi islam, dan kau berperan sebagai jenderalnya.

Nanti, ketika ada seorang lelaki shalih tergerak meminang putrimu. Apa kau akan memperberat maharnya? Atau kau berbaik hati melepas putrimu dengan mahar seadanya?
Ah tidak, anakmu masih terlalu murah untuk dipantaskan dengan seorang shalih. Tapi bagimu, justru lelaki shalih tersebut yang terlalu murah untuk anakmu!

Anakmu hanya bisa dibeli dan diambil dengan mahar yang mahal. Karena jauh di dasar hatimu kau ingin puluhan tahun perjuanganmu membesarkannya dihargai, bukan?
Apa dimatamu harta dunia itu jauh lebih bernilai dibandingkan keyakinan beragama yang tumbuh hebat di dada seorang pemuda? Untuk apa sebenarnya putrimu kau besarkan, dunia atau akhirat? Untuk seorang pemuda shalih yang pantas menjemputnya? Atau pemuda salah yang tidak pantas menjemputnya?
Ah tidak, sekali lagi pemuda yang memiliki harta lebih kau utamakan. Dia pasti benar. Dia pasti selamat. Itu pikirmu.

Kau tidak tahu, seorang pemuda shalih kelak akan diperebutkan para bidadari surga. Bisa apa anakmu sekarang bersaing diantara mahligai akhirat tersebut?
Sekarang, anakmu ingin dipersunting pemuda sederhana nan shalih kau tidak mau. Mau makan apa nanti. Mau tidur dimana nanti. Itu kekhawatiranmu sebagai orang tua. Itu wajar. Tapi sangat berlebihan. Sangat, sangat dan sangat!

Kau tidak tahu, pemuda shalih akan memuliakan putrimu dunia dan akhirat. Ia akan selalu berjuang keras pagi hingga petang untuk membuat putrimu tidak terjaga dalam kelaparan, tidak tertidur dalam kekhawatiran. Walau hartanya sekarang tak seberapa, tapi ia rela bertaruh nyawa untuk menjaga putrimu. Menjaganya dari lelaki lain, dengan mengajarkan memakaikan hijab syar’i untuknya. Menjaganya dari api neraka, dengan mengajarkan agama padanya.

Hal yang tidak kau berikan padanya, bukan?

Terlebih lelaki shalih tahu, dalam sejarah pernikahan Nabi, Nabi tidak pernah memberikan mahar dalam jumlah yang sedikit.
Ia pasti akan memberikan mahar yang pantas untuk putrimu. Tapi menghancurkan niatnya dengan memberikan harga yang terlampau mahal dan tanpa kompromi, ini adalah bentuk kolonialisasi gaya baru! You destroy him very well.

Jangan kau persulit lamaran seorang lelaki shalih.
Jangan kau perberat ia sehingga menunda meminang putrimu.
Yah, jika putrimu cantik, seorang hafizah 30 juz, hafal ribuan sanad hadis beserta matannya, lulusan S3 tsumma cumlaude Universitas Madinah, mungkin harga itu layak diperjuangkan.
Tapi jika bukan, semua lelaki shalih bisa jadi mundur dan berlari menjauh. Apakah kau mau?

Sekarang jika kini kau tahu, mulailah belajar menghargai setiap lelaki yang datang ke rumahmu.
Ia lelaki baik. Datang dengan baik-baik. Ingin menjemput dengan cara yang baik. Maka beri kebaikan untuk dirinya!

Dari seorang lelaki yang sedang memantaskan diri.

Akhukum fillah,
Erwin Pandu Pratama
Sumber: https://www.facebook.com/berjiwahanif/posts/639043406293106:0

بسم الله الرحمن الرحيم
Tulisan di atas merupakan nasihat bagi para orang tua atau wali yang terlalu memaksakan kepada peminang putrinya untuk memberikan mahar yang besar, pesta pernikahan yang megah, serta memiliki penghasilan tetap dan besar. Mereka tidak mempertimbangkan keshalihan sang pemuda, ikhtiarnya mencari nafkah, semangatnya menuntut ilmu, keberaniannya meminang dengan cara yang sesuai syariat.

Wahai para wali, mudahkan keduanya untuk menikah.
Murahnya mahar bukanlah ukuran kesungguhan pemuda dalam melamar.
Sederhananya walimah bukanlah ukuran keberkahan yang didapat dari menikah.
Rendahnya pendapatan bukanlah jaminan kebahagiaan.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ العَفَافَ
“Ada tiga orang yang Allah wajibkan atas diri-Nya untuk menolong mereka, Orang yang berjihad di jalan Allah, Budak yang memiliki perjanjian yang berniat memenuhi perjanjiannya, dan orang yang menikah dengan niat menjaga kesucian diri dari perzinahan.” [HR. At-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Shahihul Jami’: 3050]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman
وَأَنكِحُوا اْلأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32).

Nikah adalah suatu ketaatan. Dan tidak mungkin Allah membiarkan hamba-Nya sengsara ketika mereka ingin berbuat kebaikan semisal menikah.


Selesai ditulis di Bandung, 22 Sya’ban 1438 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s